2013/02/18

Review Novel "The Novelist" Oleh Dean Koontz : Bila Kritikus Fanatik Jadi Posesif



Judul Buku : The Novelist

Pernah terbit dengan judul : RELENTLESS
(Tidak ada keterangan mengenai alasan mengubah judul oleh penerbit Ufuk Fiction)

Penerbit : Ufuk Fiction

Jumlah Halaman : 549 Halaman

Jenis Novel  : Suspence Thriller

Saya tertarik membeli buku ini pertama karena buku ini bercerita mengenai kehidupan seorang penulis. Kedua, buku ini bertema thriller, yang biasanya tidak membosankan. Berhubung mood saya sedang ingin membaca buku-buku bertema thriller, jadilah saya membeli buku ini.

Cerita novel ini dimulai dengan perkenalan tokoh. Mengambil sudut pandang orang pertama, Cullen 'Cubby' Greenwich, memperkenalkan seluruh keluarganya di awal cerita. Dimulai dari istri tercintanya, Penny Boom, seorang pengarang cerita anak yang cukup terkenal. Seorang anak lelaki jenius bernama Alexander yang dipanggil Milo atau Spooky, dan seekor anjing yang bernama Lassie. Cubby sendiri adalah seorang penulis yang sudah menghasilkan lima buku best-seller. Dan petualangan menegangkannya dimulai setelah Cubby menerbitkan buku-nya yang ke enam, One O'Clock Jump.

Shearman Waxx, seorang kritikus yang disegani dikalangan penulis dan penerbit buku, membuat kritikan tajam mengenai buku One O'Clock Jump karya Cubby. Yang membuat Cubby heran, banyak kesalahan pada isi kritikan Shearman Waxx mengenai buku-nya, yang menurutnya seharusnya tidak dilakukan oleh seorang kritikus buku. Misal-nya saja, nama tokoh utama yang salah tulis dalam isi kritikan Waxx.

Rasa penasaran Cubby meningkat terhadap Shearman Waxx, dan tanpa sepengetahuan Penny, Cubby melakukan penyelidikan dengan membawa Milo makan siang di Bixtro Roxie's. Malangnya, sewaktu Milo pipis, tanpa sengaja, air pipis Milo hampir mengenai celana dan sepatu Shearman Waxx yang juga sedang berada di kamar mandi. Tanpa ada kemarahan ataupun keributan, Shearman Waxx meninggalkan Cubby dengan hanya berkomentar "Doom". Sejak itu dimulailah, serangkaian kejadian aneh di rumah keluarga Cubby Greenwich. 

Dimulai dengan kehadiran Shearman Waxx yang mampu berjalan-jalan didalam rumah, tanpa ijin dan tanpa membunyikan  alarm, foto keluarga yang tiba-tiba dipanggang di dalam oven, serangan tengah malam dengan taser - alat kejut listrik sampai rumah Cubby yang meledak di pagi hari yang cerah. Belum lagi serangkaian tembakan-tembakan dengan menggunakan peredam suara ketika genk Waxx berhasil menemukan tempat persembunyian Cubby dan keluarga. Jadilah kejar-kejaran dimulai.

Untung saja, Cubby, Penny, Milo dan Lassie adalah orang-orang yang pantang menyerah. Walaupun diselimuti rasa ragu dan takut, mereka berjuang mencari alasan, mengapa seorang Shearman Waxx sangat membenci Cubby. Penyelidikan mereka terhadap Waxx mengagetkan mereka. Semua penulis yang buku-nya di review oleh Waxx selalu mendapat nasib yang naas. Dan hal itu terlalu sederhana apabila dianggap suatu kecelakaan belaka. Seorang teman penulis Cubby, John Clitherow, yang buku-nya juga di-review Waxx memperingatkan Cubby agar berhati-hati, menghindar dan sembunyi dari Waxx. John sudah kehilangan orangtua-nya, istri dan anak-anaknya karena kejadian-kejadian aneh yang tidak bisa dibuktikan sebagai perbuatan Waxx.

Namun Cubby, Malah bertambah penasaran. Dengan dibantu oleh Vivian Norby- pengasuh Milo dan Mertua Cubby yang kebetulan adalah Ahli meruntuhkan rumah dengan bahan peledak, memiliki jaringan pasar gelap dan jago sembunyi, Cubby mendeklarasikan 'Perang Waxx'. 

Perang Waxx dimulai dengan menelusuri seorang korban Waxx yang masih hidup di Smokeville. Henry Casas. Dan menelusuri jejak kematian Tom Landluf dan bertemu Sheriff Walbert. Di rumah peninggalan keluarga Landluf ini, akhirnya misteri gerombolan Waxx terungkap. Dan Waxx ditawan oleh Cubby!!

Dengan menyandera Waxx akhirnya Cubby dapat menemukan pusat kegiatan organisasi Waxx yang ternyata sangat rapi, dan modern. Dan alasan utama Zazu memburu Cubby adalah untuk menghilangkan pola pikir baru yang membahayakan dunia mereka yang fanatik. Mereka tidak ingin ada paham baru merusak tata masyarakat yang mereka bangun dan rintis dengan susah payah. Siapakah Zazu? Apa hubungannya dengan Shearman Waxx? Dapatkah Cubby menyelamatkan dirinya, beserta istri, anak dan anjingnya? Dapatkah Cubby mengembalikan kehidupannya seperti sebelumnya?

Novel ini memang tak bisa membuat saya berhenti membaca. Dean Koontz meramu novel ini dengan humor-humor halus yang membuat kita tersenyum simpul. Walaupun kadang saya gak paham dengan maksud kata-katanya. Kalimat-kalimatnya sering berputar dan panjang. Terpaksa harus dibaca ulang dan berkali-kali. kadang saya berpikir apakah terjemahannya yang kurang 'kena' dari maksud kalimat aslinya? heem..mungkin.

Oh, iya..abaikan saja ending cerita-nya. Buat saya akhirnya menyebalkan sekali. 'Gak setara dengan awal cerita yang mengalir, dan bagian pertengahan yang seru. Ending-nya gak asik.Terlalu aneh dan dipaksa-kan.

Karena baru kali ini saya baca buku karangan Dean Koontz, saya tidak bisa membandingkannya dengan karya beliau yang lain soal ending gak enak ini. Siapa tahu hanya di buku ini bukan? berbekal keyakinan seperti itu, saya memasukkan Dean Koontz sebagai salah satu penulis novel thriller yang karya-nya harus saya koleksi. 

Demikian resensi saya soal novel ini. Selamat membaca The Novelist karya Dean Koontz ini bila kalian tertarik membeli-nya.

2013/02/16

Yang Selalu Ada

Tulisan ini saya buat, karena;
1. Sedang sakit gigi dan PMS bulanan membuat pinggang dan perut melilit semalaman. Mengingat hal manis akan mengurangi rasa sakit.

2. Tidak bertujuan untuk romantis-romantisan. Karena pelaku utama, dua-dua-nya 'ndak suka romantis-romantisan. Sedikit romantis?mungkin.

3. Tulisan ini dibuat bukan untuk edisi Valentine. Lihat postingannya saja bukan di hari Valentine.

Sepanjang pengalaman saya menikah, suami saya memang agak 'jengah' dengan gaya romantis berlebihan yang menurutnya ukurannya 'lebay'. Tapi tidak menolak menggandeng tangan saya di muka umum, atau mencium kening saya di depan keluarga besarnya. 

Saya pun agak geli dengan sikap romantis berlebihan dari seorang lelaki. Walaupun saya penggemar cerita unyu-unyu, tetap saja bila hal itu terjadi dalam real-life, rasanya....ieyeuh!
Dikhayalkan boleh, dibuat terjadi boleh. Tapi, sedikit saja.

Nah...setiap tahun dunia sibuk dengan edisi Valentine dan banjir coklat. Apakah suami dan saya ikut sibuk dengan hadiah coklat? err...kami tidak mengakui hari Valentine. 

Walaupun suami saya pernah membawa-bawa seikat besar mawar merah ke restoran untuk diberikan kepada saya. Membuat saya kaget setengah mati, gugup setengah mati, bengong dan segala perasaan bodoh yang lainnya...tetap saja hal itu manis sekali :) Dan...saya berusaha menganggap hal ini masuk kategori 'hanya sedikit romantis'.

Kemudian setiap ada kesempatan walaupun bukan hari Valentine, Lingga selalu rajin membelikan obat kewarasan saya. Begini, saya menderita kebutuhan akut akan dua atau tiga jenis barang ini. Coklat merk Silverqueen yang tulisannya berwarna merah atau Beng Beng dan Minuman soda ber-merk Coca Cola. Bukan mau promosi, tapi kalau saya sedang 'angot' atau butuh kambing hitam maka saya akan menyerahkan diri pada kenikmatan coklat dan soda untuk membuat hormon bahagia saya muncul dan melimpah ruah. Ini membuat saya selalu terlihat senang, happy dan baik-baik saja. Lebih efektif daripada marah-marah. Dan jangan ditiru....

Jadi coklat dan valentine tidak berlaku buat kami. Karena kami selalu berusaha punya stok coklat. 

Oh iya coklat merk diatas tidak berlaku, bila hari Valentine datang.
Saya tidak pernah bertanya, kenapa bila hari perayaan Valentine datang (dan kami tidak merayakannya), Lingga selalu membeli coklat berbeda dari merk yang aku suka? pertanyaan bagus yang tidak pernah saya tanyakan. Mungkin saya harus menanyakannya suatu saat. Seperti gambar coklat di tulisan ini, karena bukan silverqueen berarti itu coklat edisi februari.

Jadi begitulah..intinya saya mau menceritakan bahwa saya dapat coklat spesial juga di akhir hari yang disebut Valentine (walaupun saya tidak merayakannya). Dan saya tidak keberatan bila tahun depan Lingga melakukannya lagi dan lagi. Dan...suami saya yang sepertinya kaku dan kurus itu ternyata sangat perhatian sama istrinya yang galak dan suka semena-mena ini. Dan...terimakasih atas segala perhatian, Cinta dan Kasih sayang selama ini, yang mungkin luput terucapkan langsung dari saya. Dan ... terimakasih karena sudah bersedia menjadi Karunia Terbesar di hidup saya.

PS: Saya harap tulisan ini masuk pada katagori 'hanya sedikit romantis'.



2013/02/15

Meditasi Sebagai Gaya Hidup ? Kenapa Tidak? (2)

Kemajuan dunia seperti buah simalakama. Ada sisi baik dan ada sisi buruk. Sisi baik tentu saja kemudahan manusia untuk menggunakan semua fasilitas yang ada sekarang. Berbagai jenis kemajuan teknologi dan informasi seperti internet, telepon genggam, berbagai jenis moda transportasi yang mudah dinikmati, perkembangan dunia usaha yang pesat, meluas dan sebagainya sangat membantu kemudahan manusia dalam menjalani kehidupannya sehari-hari. Idealnya sih, manusia seharusnya sudah menikmati hidup yang nyaman dan sejahtera. 

Tetapi, jangan lupa dengan sisi buruk yang harus dihadapi sebagai imbas dari kemajuan dunia sekarang. Rentetan tuntutan hidup yang harus dipenuhi pun mulai menanjak seiring kesuksesan jalan hidup yang dicapai. Mulai dari tuntutan keuangan untuk berbagai macam tagihan dan biaya hidup, tuntutan waktu yang harus dibagi-bagi dengan adil, tuntutan pekerjaan yang kian lama kian menggunung, tuntutan kehadiran dimana-mana entah dirumah untuk pasangan, entah di sekolah untuk anak, entah di kantor untuk atasan...benar-benar melelahkan. Lalu stres pun menjelang.

Berbagai cara dilakukan manusia agar bisa menghindari dan mengobati stres. Ada yang dengan jalan-jalan di mal, membaca buku, travelling di dalam atau ke luar negeri, ganti pekerjaan atau bahkan ada yang meninggalkan pekerjaannya demi mengurangi stres. 

Indscript Creative dan Personal Branding Agency cukup jeli melihat peluang untuk menjadikan dan mempromosikan konsep meditasi sebagai suatu 'New Trend' dalam gaya hidup masyarakat, khususnya di Indonesia. Lewat brand Adjie Silarus yang mem-fokuskan diri sebagai Meditator, diharapkan masyarakat akan lebih paham fungsi dan manfaat meditasi dalam hidup di jaman modern ini.

www.adjiesilarus.com

Lalu siapa itu Adjie Silarus

Adjie Silarus adalah seorang Meditator yang Lulus dengan predikat cumlaude di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, telah mengikuti latihan meditasi kesehatan, menyelesaikan OMM365 yaitu selama 1 tahun mempelajari mengenai One Moment Meditation, menguasai dan memahami tentang “Meditative Mind” serta “Mindfulness”. 
Pengetahuan yang diperoleh tersebut kemudian dibagikan dalam bentuk pelatihan, seminar, dan konsultasi bagi yang memerlukan untuk memberikan solusi mengenai cara mengurangi stres, menjadi lebih cerdas emosi, fokus, konsentrasi, hidup sadar, lebih damai dan bahagia. 

Seminar seputar Meditasi dan Psikologi yang pernah diberikan, diantaranya untuk perusahaan-perusahaan seperti: Gapura Angkasa, Kaltim Primacoal, Aneka Tambang, Perusahaan Gas Negara, Petrochina, Indonesia Power, Adaro Indonesia, Indosat M2, dan beberapa perusahaan lain. Selain itu, saat ini juga menjadi salah satu trainer di Rumah Perubahan yang dimotori Rhenald Kasali.

Lalu apa manfaat dan kegunaan Meditasi ?

Dari sudut pandang fisiologis, meditasi adalah anti-stres yang paling baik. Saat anda mengalami stres, denyut jantung dan tekanan darah meningkat, pernapasan menjadi cepat dan pendek, dan kelenjar adrenalin memompa hormon-hormon stres. Selama anda melakukan meditasi, detak jantung melambat, tekanan darah menjadi normal, pernapasan menjadi tenang dan tingkat hormon stres menurun. 

Secara konsep meditasi menitikberatkan pada kontemplasi, yaitu perenungan kembali. Kembali merenungkan apa yang sesuai dengan diri kita dan bagaimana meng-aplikasikan semua hal pada diri kita agar sukacita dan suasana tenang tercapai dalam keteraturan. Dalam meditasi, kita akan 'dipaksa' berpikir santai, runut dan tidak loncat-loncat, juga memahami dan mengenal konsep diri kita, apa yang kita inginkan, bagaimana melakukannya dan mengambil keputusan dengan tenang.

Secara fisik, meditasi bukan hanya duduk bersila saja. Melainkan berusaha mengatur jalur pernafasan yang merupakan titik pusat upaya kita mencapai ketenangan. Ya, bernapas teratur akan membuat denyut jantung menjadi normal, dan otak yang sibuk berpikir menjadi tenang. Hal inilah yang membantu penurunan tingkat stres pada diri manusia. 

Meditasi juga bukan berarti kita kehilangan kesadaran, malah sebaliknya, dalam bermeditasi kita harus memiliki kesadaran dan fokus. Meditasi bisa dilakukan dimana saja. Sewaktu rapat, sewaktu menyupir, sewaktu makan. Sewaktu menyupir kendaraan, kita menarik nafas, memfokuskan diri pada aktivitas menyupir, menyadari apa saja yang ada di depan, samping kiri dan kanan serta di belakang kita dengan ketenangan hasil dari bernapas yang pelan, dan teratur, dan menikmati kegiatan menyupir, walaupun jalanan macet 5 kilometer! Karena itu meditasi harus dilakukan dalam keadaan sadar dan terfokus.

Apakah meditasi bisa dijadikan gaya hidup modern?

Tentu saja. Adjie Silarus sudah melakukannya. Bermeditasi dalam gaya hidup modern, dan membagikannya kepada orang-orang yang mau belajar dan berubah.
Sekedar mengingatkan, lupakan saja imej dalam masyarakat awam di Indonesia yang meng-kait-kan meditasi dengan proses yang dilakukan paranormal dengan segala macam syarat yang tidak masuk akal.Meditasi yang diperkenalkan Adjie Silarus simple, menyenangkan, medukung gaya hidup modern dan dapat dilakukan dimana saja. Syaratnya hanya fokus dan mau mencoba.

Selamat Bermeditasi.








2013/02/11

Meditasi Sebagai Gaya Hidup? Mengapa Tidak?

www.adjiesilarus.com

Meditasi kini bisa disebut sebagai gaya hidup, karena tanpa disadari, meditasi semakin digemari sebagai salah satu cara “mengusir stres”. Meditasi menjadi sebuah prestise sekaligus nilai yang membawa kita pada kesadaran untuk mengenali siapa sesungguhnya diri kita, bagaimana cara pikiran kita bekerja, serta kesadaran mengenai hidup yang sesungguhnya.

Jika Anda bertanya apakah arti dari “meditasi”, maka Anda akan menemukan banyak definisi yang dapat menggambarkannya. Secara fisik, meditasi mungkin terlihat seperti aktivitas duduk bersila, memejamkan mata, lalu mengatur pernafasan dan pikiran agar batin lebih tenang. Bagi sebagian masyarakat, meditasi menjadi bagian dari ritual kultural yang dikaitkan dengan agama tertentu.

Namun sesungguhnya, meditasi bisa dilakukan oleh setiap orang tanpa mengaitkannya dengan apapun. Meditasi telah menjadi aktifitas rutin yang kian populer di berbagai kalangan. Bahkan kini menjadi bagian dari gaya hidup.

Secara praktis, meditasi adalah proses untuk mengendalikan arus pikiran kita. Benak manusia yang selalu aktif memikirkan banyak hal, rencana, atau ambisi dalam hidup kerapkali membuat kita merasa selalu sibuk, terburu-buru, dan tertekan. Meditasi membantu kita untuk berpikir dan bertindak lebih tenang.

Ketenangan itu dapat dicapai dengan melakukan teknik pernapasan. Ya, bernapas. Aktifitas yang kadang tak kita sadari, ternyata memberi pengaruh besar dalam kinerja otak. Saat kita berfokus dalam aktivitas bernapas, akan ada koneksi kuat antara tubuh dan pikiran kita. Dengan bernapas teratur, lembut, dan perlahan, maka kita juga tengah menenangkan tubuh dan pikiran. Gelombang otak pada saat meditasi (kondisi Delta) akan terlihat jauh lebih tenang dibanding dengan kondisi ketika raga terbangun (kondisi Beta).

Meditasi bukanlah sekadar aktivitas satu jam bersila yang diagendakan setiap hari di jam yang sama. Meditasi bisa disisipkan dalam apapun aktivitas Anda, asal dilakukan dengan fokus dan sadar. Jika Anda makan, lakukanlah dengan kesadaran bahwa Anda sedang makan, maka makanan Anda akan terasa benar-benar enak. Jika berjalan, sadarlah bahwa Anda sedang berjalan dan fokuslah pada tujuan jalan Anda. Prinsipnya, ketika pikiran Anda tenang dan fokus, Anda akan lebih mudah menikmati hidup dan apapun yang terjadi di dalamnya.

Jon Kabat-Zinn, Profesor dari MIT (Massachussetts Institute of Technology) yang juga pakar meditasi, mengatakan, “Wherever You Go, There You Are“. Meditasi akan membimbing Anda menuju jalan terbaik yang harus dituju dan memberikan pengaruh positif pada keadaan di masa yang akan datang. Tidak peduli bagaimana masa lalu Anda, seberapa terluka hati Anda, dan sekuat apa masalah dalam hidup Anda, meditasi membuat Anda begitu percaya bahwa masa depan Anda akan berkilau seperti sebuah berlian. Kehidupan yang terus berkembang, berbagai persoalan dan pencapaian, tidak akan memberikan pengaruh besar pada sikap kita. Meditasi membantu si sukses untuk tetap memandang ke bawah dan si gagal untuk tetap tegap melangkah.

Meditasi kini tak bisa lagi dipandang sebagai kegiatan yang aneh atau ritus abnormal, seperti yang banyak diduga orang berhubungan dengan hal seperti: berkomunikasi dengan makhluk halus, atau “berpindah” ke alam lain. Meditasi bukanlah aktifitas paranormal, namun berkaitan dengan menenangkan pikiran dan kesadaran kita. Saat meditasi, bukan berarti pikiran Anda melayang jauh. Sebaliknya, pikiran Anda amat sadar, hanya saja lebih tenang, berdiam, dan fokus pada momen Anda saat itu.

Meditasi sebagai gaya hidup itulah yang sudah dilakukan oleh seorang Adjie Silarus. Dan, Indscript Creative beserta Personal Branding Agency-nya amat jeli untuk menampilkan sosok yang bisa membantu memasyarakatkan konsep meditasi. Masa lalunya yang pernah membuat Adjie mengalami stres berat hingga kesehatan fisiknya melemah, ternyata tidak mampu membuat Adjie kalah. Adjie bangkit dan terus menguat. Dia mencapai titik puncak ketika menggunakan meditasi sebagai TERAPI dan menjadikannya sebuah gaya hidup sehat. Kini, Adjie Silarus semakin prima sebagai meditator yang mencapai kondisi delta.

Mari kita mulai mengikuti langkah Adjie Silarus, dengan menjadikan meditasi sebagai bagian dari gaya hidup. Katupkan mata, atur pernapasan, dan Anda akan mendapat kendali penuh atas diri dan hidup Anda. Selamat bermeditasi!


2013/02/09

Prompt Challenge #3 : TELAT!




"Gawat!"

Aku melirik jam di tangan, sudah lewat 3 menit! Kupercepat lariku, walaupun tahu bahwa itu hanyalah usaha sia-sia. Aku sudah telat!

“Tidak apa-apa,” kataku menenangkan hati.

Aku mulai memasuki ruangan dan mengetuk pintu. Seketika semua mata di dalam ruangan ini melihat ke arahku.

Sambil berusaha terlihat tenang dan berwibawa, aku berjalan menuju bangku-ku. Senyum manis pun tak lupa aku lemparkan.

“Jangan sampai mereka tahu aku gugup dan grogi,” pikirku.

Jantungku masih berdegup-degup keras. Tetapi aku yakin hal itu pasti bukan karena aksi ‘sprint’ kilat yang barusan aku lakukan untuk mengejar waktu.

Kuletakkan tas kerjaku dan tas laptop hitam di atas meja. Agak terkejut waktu menyadari telapak tanganku basah dan jari-jariku gemetaran.

“Aku harus duduk dan menenangkan diri.” Lalu kuhempaskan diriku di kursi empuk di muka ruang kuliah ini.

Good Afternoon Class...,” ucapku memulai,“Mari kita lanjutkan presentasi wirausaha minggu lalu. Kelompok mana yang akan maju hari ini?” tanyaku ramah pada para mahasiswaku. Beberapa orang tampak mengangkat tangannya.

“Baiklah. Silahkan maju ke depan.”

Tiga orang mahasiswa maju ke depan. Mempersiapkan laptop untuk pesentasi mereka, menyambung kabel dari laptop ke projector, dan membuka presentasi mereka. “Selamat Siang teman-teman. Hari ini rencana wirausaha yang akan kami tampilkan adalah mengenai...”

Aku mendengarkan semua ucapan mahasiswaku dengan pikiran kosong. Otakku masih tumpul. Dan hanya ada satu orang yang bisa membuat otakku bisa berhenti berputar seperti ini. Adam.

Bayangkan saja, lima belas menit yang lalu dia...Adam...memintaku untuk menikah dengannya!

Hatiku berdegup kembali dengan cepat. Kurasakan pipi-ku menghangat. Perasaanku melayang-layang.

“Mira...Aku letih bersandiwara. Dan kita tidak muda lagi. Kamu tahu hatiku milikmu. Cukupkah itu untuk memintamu menikah denganku?” Kalimatnya sederhana. Efeknya tidak sesederhana itu.

Mira terkaget-kaget bukan kepalang. 
Di parkiran kampus, ditengah panas matahari hampir pukul satu siang, seorang lelaki bodoh yang dicintainya, menungguku untuk melamarku?

“Mira?” Adam masih menunggu jawaban. Mira deg-deg-an.
“Adam...Aku...Aku...” Mira tak bisa berucap. Semua kata seperti hilang dari pikirannya.
“Mira, bersediakah engkau menikah denganku?” Adam mengulang pertanyaannya lagi dengan tegas. Mira mengangukkan kepalanya. Adam tersenyum. Dibelainya kepala Mira dengan mesra.

Mam...ada pertanyaan dari hasil presentasi kami?” tanya seseorang dari negeri awang-awang.
Aku gelagapan. 
Berusaha mengembalikan fokus pikiranku pada saat ini. Dengan cepat kuhapus bayangan kejadian tadi, untuk sementara.
“Nanti kita lanjutkan, Adam. Nanti.” Aku tersenyum.

---

Sumber gambar : www.jakartamediaonline.com


2013/02/07

[Berani Cerita #1] Surat Merah Jambu



Aku menegakkan kepalaku. Instingku mengatakan ada sesuatu yang memperhatikan aku atau mungkin lebih tepatnya seseorang. Yah...bukannya aku suka Gede Rasa alias GR, tetapi begitulah yang terjadi bila indera ke-enamku sudah aktif. Akibatnya bisa ditebak, aku jadi penasaran. Aku harus tahu siapa yang memperhatikanku.

Sambil berusaha menunjukkan sikap santai, aku menyenderkan punggungku ke deretan bangku berlapis busa tipis dan melemaskan otot-otot leherku. Seraya melakukan itu, mataku  berusaha melirik ke sebelah kiriku. Mencari-cari orang yang mau-mau-nya memperhatikan aku dengan sembunyi-sembunyi pula. Sekali lagi bukannya aku GR.

Di sebelah kiriku, ada seorang gadis. Sepertinya anak kuliah yang baru pulang dari kampus, dan ... dia menatapku terang-terangan dengan senyum tersungging di bibir-nya.

Menatapku?

Hem...sepertinya feeling-ku soal ‘memperhatikan secara sembunyi-sembunyi’ ini salah.

Tak peduli dengan tatapan gadis itu, Aku kembali menyandarkan kepalaku ke bangku kereta ini. Sambil menatap lurus ke bangku seberang. Di bangku itu duduk berjajar beberapa orang. Tetapi yang langsung berhadapan denganku adalah dua orang ibu-ibu berkerudung, sedang berbisik-bisik sambil tersenyum melihat ke arahku. Di sebelah kanan mereka, duduk seorang pemuda yang sepertinya juga sedang menahan senyuman sambil melirik ke arahku.

“Baiklah,” Ucapku dalam hati,“Aku harus mengakui bila hari ini indera ke-enam-ku sepertinya dalam kondisi ‘error’.” Sambil menelan ludah, kupaksakan diri untuk membetulkan posisi dudukku yang hampir merosot. “Sekarang waktunya berpikir, dan cari tahu. Mengapa semua orang menatapku sambil senyum-senyum?” Otakku berputar.

“Apa ada kotoran dimukaku?” Dengan gaya seolah-olah tidak sengaja, aku mengusap mukaku. Setelah itu, kuusap pula rambutku. Sekalian memeriksa. Siapa tahu rambutku ternyata tiba-tiba sedang berdiri semua.

“Stasiun Pondok Cina.” Dengung suara masinis terdengar dari speaker untuk memberitahukan penumpang nama stasiun pemberhentian berikutnya. Segera terlihat beberapa orang berdiri. Rupanya di stasiun ini ramai penumpang turun. Termasuk, dua orang ibu berkerudung itu.

Sambil membetulkan tas sandangnya di bahu, salah satu ibu yang ‘berbisik-bisik’ itu menegurku.

“ Mas...”

Aku yang memang duduk di samping pintu keluar, mau tidak mau mendengar sapaan ini, dan mengangguk tanda menanggapi.

“Sampeyan ini ternyata lelaki romantis ya? Gak sangka kalau penampilan luar metal banget dan hitam-hitam begini bisa-bisanya serius baca surat merah jambu begitu warnanya! Wah..wah...itu surat dari penggemar, pacar, atau istri, Mas? Iki temen-ku juga kagum loh...rambut gondrong, jaket kulit hitam, celana kulit hitam, pake tato segala di lengan..tapi bisa romantisss yaa!! Beruntung sekali pengirim surat merah jambu itu. Lelaki-nya ternyata berhati pujangga nih!” Si ibu berkata keras-keras, dan tertawa. Membuat semua orang yang berdiri bersamanya, juga orang-orang yang duduk disampingku, ikut tertawa mendengar ucapan si ibu (atau menertawakan aku ya?)

Aku tertawa. Lega.

Aku memperhatikan surat yang sedari tadi aku baca dalam genggamanku. Surat itu dari anak perempuanku, Sinta. Dia sedang menuntut ilmu di negara Inggris. Hasil kerja kerasnya belajar dan mendapat beasiswa S2. Semua kabar Sinta ditulis diatas kertas merah jambu itu, dengan amplop warna senada. Warna kesukaan Sinta. Aku paham sekarang.

Dengan riang hati aku keraskan tawaku,“Boleh dong 'tampang' metal hati mellow! Ya kan?” Ucapku keras.

Dan ibu-ibu itu pun semakin geli tertawa.

----

"Flash Fiction ini disertakan dalam Giveaway BeraniCerita.com yang diselenggarakan oleh Mayya dan Miss Rochma."

Sumber Gambar: Wardahart.blogspot.com

2013/02/01

Prompt Challenge #2 : Tentang Tas

Sri menimang-nimang tas branded itu. Bentuknya cantik sekali. Terbuat dari kulit sintetis yang diemboss berwarna putih dengan aksen kulit ular. Berkali-kali dia menimang lalu menaruhnya kembali, lalu kembali mengambil dan menimangnya lagi. Pikirannya kacau.

"Bagaimana bisa tas Non Tasya oleh-oleh dari Papa-nya ada di lemariku?", batinnya bertanya-tanya.

Jantungnya berdegup keras sekali. Dug...dug...dug...

Lututnya terasa lemas.

Dipeluknya tas putih itu di dada.

"Ya Allah...ujian apa lagi ini?", ratap Sri. Pelan dan sedih.

Tasya, anak majikannya itu membencinya. Terutama sejak Sri tidak bisa lagi menutup-nutupi kelakuan Tasya yang sering membawa pacarnya, Mas Dafa, ke kamarnya setelah pulang sekolah.

Sri tidak mengadu. Tidak ada yang pernah berani mengadu. Supir, satpam, tukang kebun. Semua diam.

Nyonya tiba dirumah suatu hari, tanpa pemberitahuan. Dan, memergoki anak semata wayangnya berciuman dengan seorang anak lelaki di dalam kamar. Lalu hidup Sri pun berubah.

Sejak itu berbagai masalah 'aneh' menimpa Sri.

"Sekali ini habislah aku."

"Aku pasti ditendang keluar dari rumah ini."

Sri mendesah.

"Sri...Sri...!!" jeritan Tasya terdengar jelas sampai ke kamarnya. Langkah kaki pun terdengar berderap bersama suara itu.

Tok! Tok! Tok!

Pegangan pintu kamar Sri berputar dan...BRAK!
Pintu pun terbuka. Disana Tasya berdiri dengan sikap pongah.
Masih mendekap tas putih di dadanya, Sri berbalik.
"Non Tasya..."