2013/02/11

Meditasi Sebagai Gaya Hidup? Mengapa Tidak?

www.adjiesilarus.com

Meditasi kini bisa disebut sebagai gaya hidup, karena tanpa disadari, meditasi semakin digemari sebagai salah satu cara “mengusir stres”. Meditasi menjadi sebuah prestise sekaligus nilai yang membawa kita pada kesadaran untuk mengenali siapa sesungguhnya diri kita, bagaimana cara pikiran kita bekerja, serta kesadaran mengenai hidup yang sesungguhnya.

Jika Anda bertanya apakah arti dari “meditasi”, maka Anda akan menemukan banyak definisi yang dapat menggambarkannya. Secara fisik, meditasi mungkin terlihat seperti aktivitas duduk bersila, memejamkan mata, lalu mengatur pernafasan dan pikiran agar batin lebih tenang. Bagi sebagian masyarakat, meditasi menjadi bagian dari ritual kultural yang dikaitkan dengan agama tertentu.

Namun sesungguhnya, meditasi bisa dilakukan oleh setiap orang tanpa mengaitkannya dengan apapun. Meditasi telah menjadi aktifitas rutin yang kian populer di berbagai kalangan. Bahkan kini menjadi bagian dari gaya hidup.

Secara praktis, meditasi adalah proses untuk mengendalikan arus pikiran kita. Benak manusia yang selalu aktif memikirkan banyak hal, rencana, atau ambisi dalam hidup kerapkali membuat kita merasa selalu sibuk, terburu-buru, dan tertekan. Meditasi membantu kita untuk berpikir dan bertindak lebih tenang.

Ketenangan itu dapat dicapai dengan melakukan teknik pernapasan. Ya, bernapas. Aktifitas yang kadang tak kita sadari, ternyata memberi pengaruh besar dalam kinerja otak. Saat kita berfokus dalam aktivitas bernapas, akan ada koneksi kuat antara tubuh dan pikiran kita. Dengan bernapas teratur, lembut, dan perlahan, maka kita juga tengah menenangkan tubuh dan pikiran. Gelombang otak pada saat meditasi (kondisi Delta) akan terlihat jauh lebih tenang dibanding dengan kondisi ketika raga terbangun (kondisi Beta).

Meditasi bukanlah sekadar aktivitas satu jam bersila yang diagendakan setiap hari di jam yang sama. Meditasi bisa disisipkan dalam apapun aktivitas Anda, asal dilakukan dengan fokus dan sadar. Jika Anda makan, lakukanlah dengan kesadaran bahwa Anda sedang makan, maka makanan Anda akan terasa benar-benar enak. Jika berjalan, sadarlah bahwa Anda sedang berjalan dan fokuslah pada tujuan jalan Anda. Prinsipnya, ketika pikiran Anda tenang dan fokus, Anda akan lebih mudah menikmati hidup dan apapun yang terjadi di dalamnya.

Jon Kabat-Zinn, Profesor dari MIT (Massachussetts Institute of Technology) yang juga pakar meditasi, mengatakan, “Wherever You Go, There You Are“. Meditasi akan membimbing Anda menuju jalan terbaik yang harus dituju dan memberikan pengaruh positif pada keadaan di masa yang akan datang. Tidak peduli bagaimana masa lalu Anda, seberapa terluka hati Anda, dan sekuat apa masalah dalam hidup Anda, meditasi membuat Anda begitu percaya bahwa masa depan Anda akan berkilau seperti sebuah berlian. Kehidupan yang terus berkembang, berbagai persoalan dan pencapaian, tidak akan memberikan pengaruh besar pada sikap kita. Meditasi membantu si sukses untuk tetap memandang ke bawah dan si gagal untuk tetap tegap melangkah.

Meditasi kini tak bisa lagi dipandang sebagai kegiatan yang aneh atau ritus abnormal, seperti yang banyak diduga orang berhubungan dengan hal seperti: berkomunikasi dengan makhluk halus, atau “berpindah” ke alam lain. Meditasi bukanlah aktifitas paranormal, namun berkaitan dengan menenangkan pikiran dan kesadaran kita. Saat meditasi, bukan berarti pikiran Anda melayang jauh. Sebaliknya, pikiran Anda amat sadar, hanya saja lebih tenang, berdiam, dan fokus pada momen Anda saat itu.

Meditasi sebagai gaya hidup itulah yang sudah dilakukan oleh seorang Adjie Silarus. Dan, Indscript Creative beserta Personal Branding Agency-nya amat jeli untuk menampilkan sosok yang bisa membantu memasyarakatkan konsep meditasi. Masa lalunya yang pernah membuat Adjie mengalami stres berat hingga kesehatan fisiknya melemah, ternyata tidak mampu membuat Adjie kalah. Adjie bangkit dan terus menguat. Dia mencapai titik puncak ketika menggunakan meditasi sebagai TERAPI dan menjadikannya sebuah gaya hidup sehat. Kini, Adjie Silarus semakin prima sebagai meditator yang mencapai kondisi delta.

Mari kita mulai mengikuti langkah Adjie Silarus, dengan menjadikan meditasi sebagai bagian dari gaya hidup. Katupkan mata, atur pernapasan, dan Anda akan mendapat kendali penuh atas diri dan hidup Anda. Selamat bermeditasi!


2013/02/09

Prompt Challenge #3 : TELAT!




"Gawat!"

Aku melirik jam di tangan, sudah lewat 3 menit! Kupercepat lariku, walaupun tahu bahwa itu hanyalah usaha sia-sia. Aku sudah telat!

“Tidak apa-apa,” kataku menenangkan hati.

Aku mulai memasuki ruangan dan mengetuk pintu. Seketika semua mata di dalam ruangan ini melihat ke arahku.

Sambil berusaha terlihat tenang dan berwibawa, aku berjalan menuju bangku-ku. Senyum manis pun tak lupa aku lemparkan.

“Jangan sampai mereka tahu aku gugup dan grogi,” pikirku.

Jantungku masih berdegup-degup keras. Tetapi aku yakin hal itu pasti bukan karena aksi ‘sprint’ kilat yang barusan aku lakukan untuk mengejar waktu.

Kuletakkan tas kerjaku dan tas laptop hitam di atas meja. Agak terkejut waktu menyadari telapak tanganku basah dan jari-jariku gemetaran.

“Aku harus duduk dan menenangkan diri.” Lalu kuhempaskan diriku di kursi empuk di muka ruang kuliah ini.

Good Afternoon Class...,” ucapku memulai,“Mari kita lanjutkan presentasi wirausaha minggu lalu. Kelompok mana yang akan maju hari ini?” tanyaku ramah pada para mahasiswaku. Beberapa orang tampak mengangkat tangannya.

“Baiklah. Silahkan maju ke depan.”

Tiga orang mahasiswa maju ke depan. Mempersiapkan laptop untuk pesentasi mereka, menyambung kabel dari laptop ke projector, dan membuka presentasi mereka. “Selamat Siang teman-teman. Hari ini rencana wirausaha yang akan kami tampilkan adalah mengenai...”

Aku mendengarkan semua ucapan mahasiswaku dengan pikiran kosong. Otakku masih tumpul. Dan hanya ada satu orang yang bisa membuat otakku bisa berhenti berputar seperti ini. Adam.

Bayangkan saja, lima belas menit yang lalu dia...Adam...memintaku untuk menikah dengannya!

Hatiku berdegup kembali dengan cepat. Kurasakan pipi-ku menghangat. Perasaanku melayang-layang.

“Mira...Aku letih bersandiwara. Dan kita tidak muda lagi. Kamu tahu hatiku milikmu. Cukupkah itu untuk memintamu menikah denganku?” Kalimatnya sederhana. Efeknya tidak sesederhana itu.

Mira terkaget-kaget bukan kepalang. 
Di parkiran kampus, ditengah panas matahari hampir pukul satu siang, seorang lelaki bodoh yang dicintainya, menungguku untuk melamarku?

“Mira?” Adam masih menunggu jawaban. Mira deg-deg-an.
“Adam...Aku...Aku...” Mira tak bisa berucap. Semua kata seperti hilang dari pikirannya.
“Mira, bersediakah engkau menikah denganku?” Adam mengulang pertanyaannya lagi dengan tegas. Mira mengangukkan kepalanya. Adam tersenyum. Dibelainya kepala Mira dengan mesra.

Mam...ada pertanyaan dari hasil presentasi kami?” tanya seseorang dari negeri awang-awang.
Aku gelagapan. 
Berusaha mengembalikan fokus pikiranku pada saat ini. Dengan cepat kuhapus bayangan kejadian tadi, untuk sementara.
“Nanti kita lanjutkan, Adam. Nanti.” Aku tersenyum.

---

Sumber gambar : www.jakartamediaonline.com


2013/02/07

[Berani Cerita #1] Surat Merah Jambu



Aku menegakkan kepalaku. Instingku mengatakan ada sesuatu yang memperhatikan aku atau mungkin lebih tepatnya seseorang. Yah...bukannya aku suka Gede Rasa alias GR, tetapi begitulah yang terjadi bila indera ke-enamku sudah aktif. Akibatnya bisa ditebak, aku jadi penasaran. Aku harus tahu siapa yang memperhatikanku.

Sambil berusaha menunjukkan sikap santai, aku menyenderkan punggungku ke deretan bangku berlapis busa tipis dan melemaskan otot-otot leherku. Seraya melakukan itu, mataku  berusaha melirik ke sebelah kiriku. Mencari-cari orang yang mau-mau-nya memperhatikan aku dengan sembunyi-sembunyi pula. Sekali lagi bukannya aku GR.

Di sebelah kiriku, ada seorang gadis. Sepertinya anak kuliah yang baru pulang dari kampus, dan ... dia menatapku terang-terangan dengan senyum tersungging di bibir-nya.

Menatapku?

Hem...sepertinya feeling-ku soal ‘memperhatikan secara sembunyi-sembunyi’ ini salah.

Tak peduli dengan tatapan gadis itu, Aku kembali menyandarkan kepalaku ke bangku kereta ini. Sambil menatap lurus ke bangku seberang. Di bangku itu duduk berjajar beberapa orang. Tetapi yang langsung berhadapan denganku adalah dua orang ibu-ibu berkerudung, sedang berbisik-bisik sambil tersenyum melihat ke arahku. Di sebelah kanan mereka, duduk seorang pemuda yang sepertinya juga sedang menahan senyuman sambil melirik ke arahku.

“Baiklah,” Ucapku dalam hati,“Aku harus mengakui bila hari ini indera ke-enam-ku sepertinya dalam kondisi ‘error’.” Sambil menelan ludah, kupaksakan diri untuk membetulkan posisi dudukku yang hampir merosot. “Sekarang waktunya berpikir, dan cari tahu. Mengapa semua orang menatapku sambil senyum-senyum?” Otakku berputar.

“Apa ada kotoran dimukaku?” Dengan gaya seolah-olah tidak sengaja, aku mengusap mukaku. Setelah itu, kuusap pula rambutku. Sekalian memeriksa. Siapa tahu rambutku ternyata tiba-tiba sedang berdiri semua.

“Stasiun Pondok Cina.” Dengung suara masinis terdengar dari speaker untuk memberitahukan penumpang nama stasiun pemberhentian berikutnya. Segera terlihat beberapa orang berdiri. Rupanya di stasiun ini ramai penumpang turun. Termasuk, dua orang ibu berkerudung itu.

Sambil membetulkan tas sandangnya di bahu, salah satu ibu yang ‘berbisik-bisik’ itu menegurku.

“ Mas...”

Aku yang memang duduk di samping pintu keluar, mau tidak mau mendengar sapaan ini, dan mengangguk tanda menanggapi.

“Sampeyan ini ternyata lelaki romantis ya? Gak sangka kalau penampilan luar metal banget dan hitam-hitam begini bisa-bisanya serius baca surat merah jambu begitu warnanya! Wah..wah...itu surat dari penggemar, pacar, atau istri, Mas? Iki temen-ku juga kagum loh...rambut gondrong, jaket kulit hitam, celana kulit hitam, pake tato segala di lengan..tapi bisa romantisss yaa!! Beruntung sekali pengirim surat merah jambu itu. Lelaki-nya ternyata berhati pujangga nih!” Si ibu berkata keras-keras, dan tertawa. Membuat semua orang yang berdiri bersamanya, juga orang-orang yang duduk disampingku, ikut tertawa mendengar ucapan si ibu (atau menertawakan aku ya?)

Aku tertawa. Lega.

Aku memperhatikan surat yang sedari tadi aku baca dalam genggamanku. Surat itu dari anak perempuanku, Sinta. Dia sedang menuntut ilmu di negara Inggris. Hasil kerja kerasnya belajar dan mendapat beasiswa S2. Semua kabar Sinta ditulis diatas kertas merah jambu itu, dengan amplop warna senada. Warna kesukaan Sinta. Aku paham sekarang.

Dengan riang hati aku keraskan tawaku,“Boleh dong 'tampang' metal hati mellow! Ya kan?” Ucapku keras.

Dan ibu-ibu itu pun semakin geli tertawa.

----

"Flash Fiction ini disertakan dalam Giveaway BeraniCerita.com yang diselenggarakan oleh Mayya dan Miss Rochma."

Sumber Gambar: Wardahart.blogspot.com

2013/02/01

Prompt Challenge #2 : Tentang Tas

Sri menimang-nimang tas branded itu. Bentuknya cantik sekali. Terbuat dari kulit sintetis yang diemboss berwarna putih dengan aksen kulit ular. Berkali-kali dia menimang lalu menaruhnya kembali, lalu kembali mengambil dan menimangnya lagi. Pikirannya kacau.

"Bagaimana bisa tas Non Tasya oleh-oleh dari Papa-nya ada di lemariku?", batinnya bertanya-tanya.

Jantungnya berdegup keras sekali. Dug...dug...dug...

Lututnya terasa lemas.

Dipeluknya tas putih itu di dada.

"Ya Allah...ujian apa lagi ini?", ratap Sri. Pelan dan sedih.

Tasya, anak majikannya itu membencinya. Terutama sejak Sri tidak bisa lagi menutup-nutupi kelakuan Tasya yang sering membawa pacarnya, Mas Dafa, ke kamarnya setelah pulang sekolah.

Sri tidak mengadu. Tidak ada yang pernah berani mengadu. Supir, satpam, tukang kebun. Semua diam.

Nyonya tiba dirumah suatu hari, tanpa pemberitahuan. Dan, memergoki anak semata wayangnya berciuman dengan seorang anak lelaki di dalam kamar. Lalu hidup Sri pun berubah.

Sejak itu berbagai masalah 'aneh' menimpa Sri.

"Sekali ini habislah aku."

"Aku pasti ditendang keluar dari rumah ini."

Sri mendesah.

"Sri...Sri...!!" jeritan Tasya terdengar jelas sampai ke kamarnya. Langkah kaki pun terdengar berderap bersama suara itu.

Tok! Tok! Tok!

Pegangan pintu kamar Sri berputar dan...BRAK!
Pintu pun terbuka. Disana Tasya berdiri dengan sikap pongah.
Masih mendekap tas putih di dadanya, Sri berbalik.
"Non Tasya..."

2013/01/29

Impianku tentang Batik



Bangsa Indonesia adalah bangsa yang suka bermimpi dan berusaha meraihnya. Bukan mimpi yang bersifat negatif sehingga membuat manusia Indonesia malas berkarya, tetapi 'Mimpi' yang terbaik yang bisa membanggakan Bangsa dan Negara. Dan mimpi ini dimulai sejak Jaman Kerajaan Majapahit. Leluhur bangsa Indonesia.


Kerajaan Majapahit yang gilang gemilang memberi masyarakatnya waktu untuk berkarya. Batik yang asal muasal-nya adalah pakaian khusus untuk Raja dan Keluarganya, berkembang menjadi pakaian favorite masyarakat.  Seni Batik yang berasal dari bahasa Jawa “amba” yang berarti menulis dan “titik”, merujuk pada pola yang dihasilkan oleh bahan 'Malam' yang diaplikasikan ke atas kain dengan alat bernama ‘Canting’ untuk menahan masuknya bahan pewarna, dan dilakukan seperti membuat ‘titik-titik’ diatas kain dan lalu membentuk sebuah Corak. Corak  ini bermacam-macam. Corak ini menggambarkan seni lingkungan dan keadaan masyarakat yang melahirkannya. Dalam sejarah perkembangannya Corak pada batik mengalami perkembangan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman, lambat laun beralih pada motik abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri. Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari pohon mengkudu, tinggi, soga, nila dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.

Masyarakat jaman itu sudah bangga dengan hasil karya mereka sendiri. Bangga atas keberhasilan mereka menciptakan kain bercita rasa seni tinggi yang mereka gunakan sendiri, hingga melahirkan impian agar Batik tetap lestari dan berjaya hingga anak cucu. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah perang dunia kesatu habis atau sekitar tahun 1920. 


Lihat bagaimana hasil mimpi dan usaha para leluhur kita sekarang.


Batik yang dulu sifatnya tradisional, sekarang sudah Go International. Bahkan UNESCO menetapkan Batik Karya Indonesia sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity. Dengan penetapan ini, Indonesia diminta untuk melestarikan motif hias khas yang ada sejak zaman dulu kala. Berbatik yang dulu hanya dipakai di Indonesia, sekarang digunakan oleh banyak orang di seluruh dunia. Batik yang dulu sifatnya ‘berat’ , sekarang menjadi lebih ‘ringan’ dengan inovasi-inovasi baru yang sesuai dengan jamannya. Batik bisa ditemukan hampir dimana saja. Bahkan dengan adanya jaman canggih berbasis internet seperti sekarang sangat mendukung pola penyebaran virus positif Seni Batik Indonesia dengan banyaknya Toko Batik atau Butik Batik yang menjual Batik Online, sehingga belanja batik pun menjadi mudah. 

Lalu sesudah ini, apakah kita akan berhenti bermimpi?


Sebagai salah satu orang yang jatuh cinta dengan batik dan mengkoleksi batik  dengan selera yang berubah-ubah, sesuai umur dan perkembangan diri sendiri mulai sejak remaja, dewasa hingga sekarang menjadi ibu rumah tangga dengan tiga anak, Saya punya impian menggabungkan seni batik Indonesia dengan ikon anak Indonesia.


Alasannya?


Suatu hari suami saya yang pulang dari luar kota, membawa beberapa baju anak perempuan sebagai oleh-oleh untuk si bungsu kami. Baju itu adalah baju Dress batik anak dengan tempelan atau gambar Mickey Mouse. Saya heran sekali. Mengapa gambar si tikus lucu ini bisa ada di baju batik? Atau lebih tepatnya, cerdas sekali pencipta model batik seperti ini, yang pasti membidik sasaran pada pasar anak usia dini, TK ataupun Sekolah Dasar agar mulai mencintai seni batik. Apalagi dengan ikon anak se’terkenal’ Mickey Mouse. Anak-anak mana yang tidak kenal?

Lalu pikiran baru muncul...mengapa harus Mickey Mouse? 


Jawaban positif dari pertanyaan ini adalah faktor bisnis. Untuk lebih mengenalkan batik yang ‘aman’ dan ‘bertoleransi’ untuk dipakai oleh semua kalangan, umur dan acara, tentu para pencipta motif batik harus menyesuaikan kreasi-nya dengan hal-hal tersebut agar dua tujuan tercapai, bisnis jalan dan batik semakin dikenal cocok di semua lini kebutuhan. Termasuk anak-anak. Dan Tokoh mana yang cocok untuk memperkenalkan batik di kalangan anak baik lokal maupun dunia? Ya Mungkin (saat ini) adalah Tokoh kartun Mickey Mouse ini.


Tetapi, sebagai tukang mimpi...boleh dong saya bermimpi, suatu saat Tokoh imajinatif anak Indonesia seperti Unyil,  bisa terpajang dan menjadi pola serta corak dalam desain baju batik anak dan mendunia. Kenapa Unyil? Karena tokoh ini sudah ada di hati anak-anak Indonesia sejak lama dan bisa dianggap sudah menjadi tokoh Imajinatif Anak Nasional Indonesia. Jadi selain berfungsi melestarikan batik, karya anak bangsa berupa Tokoh Anak Indonesia yang ramah, sopan dan santun juga tercermin dari corak ini. Ingat tulisan saya diatas bahwa corak pada lukisan canting diatas kain putih menggambarkan keadaan masyarakat yang melahirkannya. Perusahaan sebesar Walt Disney saja bersedia menampilkan paduan seni batik dan tokoh kartunnya, masakan kita yang empunya batik tidak bisa turut meng-Gaung-kan tokoh rekaan orang Indonesia sendiri? Maka dari itu marilah kita mewariskan gambaran anak Indonesia yang Ramah, Sopan dan Santun dalam Batik kita. Syukur-syukur anak-anak dari dunia belahan lain mencontoh sifat dan perilaku anak Indonesia yang digambarkan dalam seni batik Indonesia. Semoga Batik selalu lestari.

2013/01/22

Dokter Cilik

Bukan suatu rahasia lagi kalau di rumah, saya,  terang-terangan, bisa dikatakan men-dogma, mempengaruhi, memutuskan...atau apalah istilah lainnya, yang artinya secara halus menggambarkan 'pemaksaan' saya terhadap pilihan karir serta cita-cita anak saya kelak.

Bukan kalimat aneh lagi bila saya, secara terang-terangan (juga), akan otomatis meng-koreksi anak saya bila mereka berkata, " Bunda nanti kalau sudah besar, saya jadi pemadam kebakaran saja yaa?"
Lalu saya akan menjawab; " tentu saja...tapi nanti setelah jadi dokter ya?"
atau, ini;
Mahesa : Bun, kayaknya aku cocok jadi komikus
Bunda : Pasti , nak. Kamu kan suka gambar. Nanti jadi komikus-nya setelah jadi Dokter saja. Sambil nunggu pasien bisa coret-coret gambar.

Yap...seperti itu contoh-contohnya. Semua di awali dengan cita-cita anak, Bunda mendukung dan terakhir selalu men-doktrin.*sstt..ini formula rahasia

Suami ku selalu senyum-senyum kalau sudah mendengar pembicaraan Ibu-anak yang menjurus ke arah sana, dengan pesan; jangan maksa, Bun.

Entah kenapa dengan profesi jadi dokter itu. Selalu membuat saya kagum. Bukan karena saya tidak berhasil jadi dokter. Saya pasti tidak akan berbakat jadi dokter. Dengan segala macam bentuk ke'paranoid' an saya, lebih baik tidak. Kasihan nanti pasien saya..hahaha

Dengan tidak mengecilkan profesi lain, buat saya Dokter itu adalah peran profesi orang yang hebat sekali. Selain pintar, seorang dokter mampu menyembuhkan sakit penyakit. Well...seharusnya saya tulis sebagian besar penyakit, karena memang banyak jenis penyakit belum ditemukan obatnya. Tapi, karena alasan ini juga maka seorang dokter dituntut untuk terus menerus belajar dan mencari tahu soal ilmu pengobatan, agar umat manusia dapat bebas penyakit. Dan saya berharap, semoga salah satu penemuan obat di dunia medis ditemukan oleh anak-anak saya. WOW!

Nah..nah..pagi ini agak membahagiakan. Setelah setahun lalu, anak saya tertua terpilih menjadi perwakilan Dokter Cilik sekolah, hari ini anak kedua saya pun mengikuti jejak kakaknya untuk ikut menjadi perwakilan Dokter Cilik Sekolah. Dan hari ini Anak kedua saya harus mengikuti pelatihan jadi dokter, yang meliputi cara-cara penanganan luka ringan dan kondisi darurat ringan, mengenal berbagai jenis bakteri dan kuman-kuman penyakit dan pengenalan kondisi tubuh yang sakit. Dan dia amat sibuk mempersiapkan buku untuk catatan kecil, bekal makanan dan minuman karena harus pelatihan sampai sore juga alat-alat tulis yang diperlukan.

Saya sampai harus bertanya berkali-kali; Mas iyo apa nanti gak kecapekan? nanti kamu bosan, lebih baik gak usah. Tapi ternyata jawabannya mengagumkan; Yahh Bunda..aku mau ikut. Aku kan senang jadi Dokter. Gimana sih bunda?

Doktrin berhasil? *angguk-angguk sembari cengengesan...*



2013/01/04

Yellow

Look at the stars,
Look how they shine for you,
And everything you do,
Yeah they were all yellow,

I came along
I wrote a song for you
And all the things you do
And it was called yellow

So then I took my turn
Oh what a thing to have done
And it was all yellow

Your skin
Oh yeah your skin and bones
Turn into something beautiful
You know you know I love you so
You know I love you so

I swam across
I jumped across for you
Oh what a thing to do
Cause you were all yellow

I drew a line
I drew a line for you
Oh what a thing to do
And it was all yellow

Your skin
Oh yeah your skin and bones
Turn into something beautiful
You know for you I'd bleed myself dry
For you I'd bleed myself dry

It's true look how they shine for you
Look how they shine for you
Look how they shine for...
Look how they shine for you
Look how they shine for you
Look how they shine

Look at the stars look how they shine for you
And all the things that you do

Song by Coldplay

 My Note :

This note might be too late. This note should be posted at the beginning of the new years. This note may not be surprising at all as other people's notes comes earlier. Its four days late from the first day of the new year!

But, i was not inspired by anything, then. I felt empty.

its just this morning...

I listened to this song and have a strong eagerness to share this to all my friends and families. This is a very sweet song that remind me how glad I am to realize how much love I have from everyone. How wonderful it is to have a life like i have. How wonderful it is to be me. My self. Alhamdulillah...
 
Leaving the old year and now we are in the new year.

So grateful to know that we still have some chances given by Allah to make our life better than yesterday.

So grateful to know there are many things we can do along this year

So grateful to know that i can make a use of me to someone else, kids, husband, friends and families

Insya Allah...

Thank you for loving me as i am